Kuasai Teknologi Tambang Bawah Tanah, Jepang Latih 40 Mahasiswa UBB

INSTUKTUR  TAMBANG--   Instruktur Jogmec (Japan Oil, Gas and Metals National Corporation)  Jepang,  selama empat hari (11-14 Desember)  mendesiminasi teknologi penambangan bawah tanah kepada 40 mahasiswa Teknik Pertambangan UBB di Ruang Pertemuan Rektorat UBB. 

BALUNIJUK, MERAWANG --  Pemerintah Jepang melalui Jogmec (Japan Oil, Gas and Metal National Corporation) selama empat hari (11-14 Desember) melatih  40 mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Bangka Belitung (UBB) tentang teknologi pertambangan bawah tanah.

Pelatihan yang juga diikuti seorang dosen Teknik Pertambangan UBB ini dibuka dan ditutup   Rektor UBB Dr Ir Muh Yusuf MS di  Ruang Pertemuan Rektorat Kampus Terpadu UBB, Balunijuk.  Jogmec  menghadirkan empat instruktur dari  Mitsui Matsuhima Resources (MMR) Co. Ltd  dan Profesor Emiritus Matsui dari Universitas Kyusu Jepang.

Team Leader Training Project on Coal (TPOC) Yoshihisa Shimoda Kamis (14/12/2017) mengemukakan, selain UBB,  Jogmec juga menggelar pelatihan tambang bawah tanah (TPOC) di Universitas Bandung (Unisba), Universitas Sriwijaya, Poltek Akamigas Migas Palembang, Universitas Negeri Padang dan Sekolah Tinggi Teknologi Industri Sawahlunto.

“TPOC ini bertujuan memberi bekal tekologi tambang bawah tanah kepada mahasiswa.    Ke depan penambangan batubara akan lebih banyak dilakukan  di bawah tanah.  Di luar Indonesia, Jogmec juga menggelar TPOC di Vietnam dan China.  ,” ujar  Yoshihisa Shimoda.  

Daikuinya, di Indonesia dan beberapa negara lainnya, melakukan  penambangan  batubara melalui teknologi tambang terbuka (open-pit).  Tapi seiring dengan waktu, menyusul terbatasnya cadangan batubara permukaan, manajemen penambangan akan  melakukan penambangan bawah tanah.

“Penambangan batu bara terbuka  atau open pit akan menemukan posisi titik ekomis.  Itu terjadi  seiring dengan terbatasnya cadangan batubara  permukaan. Padahal cadangan batubara di lapisan tanah di bawahnya masih banyak.  Inilah yang  mendorong hadirnya penambangan bawah tanah,” tukas Yoshihisa Shimoda.    

Beberapa perusahaan tambang batubara di Indonesia menurut Yoshihisa  menggali energi fosil batubara itu  melalui penambangan terbuka.  Tercatat seperti PT Bukit Asam di Umbilin, Sawahlunto, dan sejumlah perusahaan batubara di Kalimantan Timur.

“Sekitar tahun 2000-an, banyak yang melakukan penambangan terbuka. Tapi karena cadangan batubara  di bawah tanah habis, kini perusahaan-perusahaan itu kini lagi beroperasi,” ujarnya.

TPOC hadir di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia setelah Jogmec menandatangani notakesepahaman (MoU) dengan Badan Pengembangan SDM ESDM.  Selanjutnya ‘payung’ kerjasama ini ditindaklanjuti dengan rencana pelaksanaan (implementation plan) antara Pusat Pengembangan SDM daengan Geologi Mineral Batubara.

“Ada tiga TPOC.  Dua TPOC dilakukan langsung ke tambang batubara.  Masing-masing dalam bentuk pemberian bimbingan  oleh tenaga ahli dari Jepang kepada tambang batubara di Sawsahlunto dan Kalimantan Timur. Diseminasi lainnya juga diberikan kepada universitas, antara lain UBB, Unisba, Universitas Negeri Padang dan sebagainya,” tukas Yoshihisa.

Sejak 2014 Jogmec telah menggelar TPOC untuk mahasiswa Teknik Pertambangan UBB.  Tiap tahun sekurangnya diikuti 40 mahasiswa.   Hingga saat ini (2017),  sekurangnya telah 160 mahasiswa mendapat pengetahuan tentang teknologi tambang bawah tanah.

“Kegiatan ini, semuanya di bawah kendali PSDM ESDM.  Maka sertifikat akan dikeluarkan oleh PSDM ESDM,” kata Yoshihisa Shimoda.

Dalam TPOC ini, Jogmec menerjunkan instuktur dari MMR.  Mereka adalah Togawa, Hamaguci, Kaki Zaki dan Prof Emiritus Matsui  dari Universitas Kyusu (Eddy Jajang Jaya Atmaja)